Rabu, 02 April 2008

Alasan Masuk Ke Perguruan Tinggi Negeri

Tidak ada yang paling didambakan saat ini bagi para pelajar Sekolah Menengah tingkat Atas (SLTA), kecuali jika dapat meneruskan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi. Duduk di perguruan tinggi, apalagi jika berhasil memasuki Universitas yang memiliki nama besar dan memiliki sarana lengkap dan tenaga pengajar berkualitas, pasti merupakan dambaan umumnya bagi calon mahasiswa.

Sebelum melangkah memasuki jenjang pendidikan tinggi, kita semua memiliki obsesi. Sejuta harapan digantungkan di sana. Biasanya dengan alasan klasik. Supaya kelak mudah mendapat pekerjaan layak, enak, memberi jaminan karier, terhormat dan mudah melangkah ke kehidupan berprestasi. Ada pula yang hanya sekedar mencari status bagi kepentingan jenjang pekerjaannya dan banyak yang memasuki perguruan tinggi benar-benar sebagai wahana belajar untuk cita-citanya.

Tapi, apakah kita semua sudah menyiapkan diri dan memahami, mengapa kita memasuki perguruan tinggi. Apakah kita sudah siap segalanya untuk mengambil jurusan dengan segala konsekwensinya?

Jangan keliru mengambil jurusan

Kita semua sepakat memasuki perguruan tinggi itu bukan merupakan tujuan akhir dari cita-cita kita. Kita sependapat pula, bahwa perguruan tinggi merupakan wahana dana sarana tempat pendidikan yang cukup mempengaruhi kelanjutan cita-cita kita. Sudah pasti, kita dituntut serius mengikuti bidang studi yang diberikan. Beruntung, bagi mereka yang punya dasar memahami apa yang menjadi sasaran masa depan, tersedia sarana alur atau arah cita-cita dan dalam dirinya memiliki potensi yang sesuai dengan jurusan ilmu yang dipilihnya. Namun, masih banyak di antara kita yang keliru memahami pengertian memasuki perguruan tinggi.

Sebut saja Manto, seorang mahasiswa fakultas dari sebuah Universitas ternama di Jakarta. Manto terobsesi tetangganya yang berhasil bekerja di sebuah perusahaan besar dengan kedudukan sangat baik dan berpenghasilan lumayan. Tetangganya merupakan lulusan fakultas tertentu dari sebuah Universitas negeri yang punya nama. Meskipun tahu, dirinya tidak memiliki dasar potensi dan kesukaan di bidangnya, Manto berusaha keras untuk dapat memasuki Universitas tersebut dan memilih jurusan seperti tetangganya. Ketika di SMA dia rajin memasuki lembaga bimbingan belajar (Bimbel) dan mencari cara agar dapat lulus pada Ujian Nasional dan Ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Belajar di sekolahnya justru sering dia abaikan. Beruntung dia lulus dan dapat pula memasuki Universitas yang didambakannya. Namun, ketika dua smeseter duduk di bangku jurusan yang dimaksud, Manto menemui kejenuhan. Hasyrat untuk memperdalam mata kuliah sama-sekali drop.

Manto benar-benar hilang gairah. Dia lebih suka mengunjungi tempat kost kawan-kawannya untuk ngerumpi. Pemikirannya tidak terarah dan tidak lagi terfokus pada ilmu. Buku-buku mahal yang dibelinya sama sekali tidak ditoleh. Dia tak bernafsu membuka buku, apalagi untuk mengunjungi perpustakaan. Padahal, teman sekuliahnya bersemangat. Jika Manto akhirnya sering nangkring di internet, bukanlah untuk mencari data atau hal yang penting bagi perkuliahannya, melainkan sekedar membunuh kejenuhan dengan main games. Lho, apa penyebabnya?

Kesalahan ternyata bukanlah pada perguruan tinggi ataupun staf pengajarnya. Biaya kuliahpun bukan masalah, karena orang tuanya cukup mampu. Rupanya Manto baru tersadar, jurusan yang dipilih sama sekali tak sesuai dengan hasyrat sebenarnya yang ada pada dirinya. Pada akhirnya, dengan segala keterpaksaannya, Manto berusaha meneruskan kuliah. Sayangnya menjadi berlarut. Masa perkuliahannya menjadi panjang. Tak bisa dihindarkan lagi, akhirnya Manto tertendang dari Universitas tersebut alias drop out.

Manto bukanlah satu-satunya mahasiswa yang "tidak beruntung" akibat pemaksaan kehendak. Banyak juga mahasiswa lain akibat harus mengikuti jejak orang tuanya. Kadang sang orang tua kurang sensistif terhadap potensi atau apa yang dikehendaki anaknya. Misalkan orang tua menjadi seorang pengacara yang sukses, anaknya dipaksa untuk mengambil jurusan hukum, meski dia tahu anaknya tidak berbakat di sana.

Terobsesi dengan masa depan yang akan memberikan kemudahan kerja juga sering menjebak sang mahasiswa. Banyak jebolan perguruan tinggi merasa frustasi ketika awal memasuki pekerjaan dia hanya menempati posisi sejajar dengan buruh lain yang hanya lulusan SLTA. Pemikirannya hanya terfokus pada ‘jabatan', dan bukan pada bidang yang wajib dia tekuni. Padahal, banyak pengusaha besar yang menyekolahkan anaknya pada perguruan tinggi di luar negeri. Ketika lulus, anaknya dipekerjakan pada pabrik dengan posisi sejajar dengan buruh paling rendah. Sang anak justru menerima dan sangat sepakat dengan orang tuanya. Tujuannya jelas, agar dia memahami pekerjaan tersebut dari paling bawah hingga kelak jika memimpin perusahaan, akan berhasil memahami semua masalah yang ada. Dia akan menjadi matang sebagai seorang pemimpin perusahaan.

Ada seorang mahasiswa mengaku stress sebelum melangkah. Dia sering mendengar atau membaca berita pada berbagai media, bahwa lapangan pekerjaan semakin sempit dan banyak sarjana yang menganggur. Ketika dia menduduki bangku kuliah, dia kurang focus pada mata kuliah dan hatinyapun bimbang.

Membentuk maindset dalam diri kita

Tidak ada yang dipersalahkan jika semua memiliki cita-cita dan harapan ingin estabilished dalam hidup. Semua orang punya naluri sama. Tidak disangkal pula jika perguruan tinggi menjadi referensi jembatan kesuksesan hidup. Setiap mahasiswa perlu kesiapan mental jika merasa kelak merasa tidak berhasil mencapai apa yang diimpikannya, meski sudah bersusah payah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Banyak mahasiswa jebolan universitas tertentu cemburu akankesuksesan orang lain yang tidak pernah mengecap pendidikan formal. Ada pula yang stress tidak mendapat pekerjaan yang diharapkan.

Sebaiknya kita mulai berpikir sejak dini. Kita menempatkan potensi diri sebagai dasar untuk mencapai kesusksesan. Cobalah untuk berpikir mencapai kesuksesan itu tidak dengan cara ‘instant'. Namun dengan tahapan ilmu dan ketekunan. Lepas kuliah, tidak ada salahnya berobsesi untuk menciptakan lapangan kerja dan bukan sepenuhnya terobsesi mendapat pekerjaan. Kerennya, kita bercita-cita untuk bisa ‘mengupah' orang lain dan bukan menjadi ‘penerima upah'. Atau ilmu menjadi bagian dari kehidupan kita, sebagai bagian dari pengembangan untuk menuju cita-cita dan tidak dijadikan target keharusan keberhasilan menurut kata orang lain. Maka pemikiran kita menjadi melebar pada hal yang lebih luas dan besar, meski hal itu membutuhkan perjuangan dan keteguhan hati. Ilmu yang diraih di strata pendidikan tinggi dijadikan subyek dan bukan obyek.

Yang sangat lebih penting lagi, kita harus mampu mengukur kemampuan diri. Kemampuan potensi, kemampuan daya pikir maupun yang menyangkut pembiayaan.

Tidak ada komentar: